Selasa, 03 November 2015

Pasar Konstruksi Indonesia Besar, Jumlah Insinyur Masih Kurang

Sekretaris Jenderal Kementerian PUPR Taufik Widjoyono mengatakan bahwa pasar konstruksi Indonesia merupakan salah satu pasar terbesar di Kawasan ASEAN yakni mencapai US$ 267 miliar.  Pasar konstruksi di dalam negeri cukup besar, namun tidak sebanding dengan jumlah tenaga kerja Indonesia di bidang konstruksi pada tahun 2015 yang hanya berjumlah 7,2 juta orang. Dari jumlah tersebut sebanyak 109.000 tenaga ahli bersertifikat, 387.000 orang tenaga terampil dan 478 orang disetarakan dapat bekerja di kawasan ASEAN.
Demikian disampaikan Sekjen PUPR pada Kuliah Umum Peningkatan Kualitas Generasi Muda menghadapi MEA Bidang Jasa Konstruksi dihadapan mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Jember yang berkunjung ke Kementerian PUPR, Selasa (20/10).
“Daya saing global bidang konstruksi Indonesia masih tertinggal dari Singapura dan Malaysia. Pasar cukup besar tapi posisi belum begitu bagus. Artinya, jika MEA dibuka maka pasar kita akan diambil Negara tetangga karena kita tidak bisa membendung tenaga konstruksi dari luar Indonesia,”ujar Taufik.
Sekjen PUPR mencontohkan,  di Indonesia perbandingan jumlah penduduk dan jumlah Insinyur adalah 3.000 Insinyur berbanding 1.000.000 orang penduduk.  Sementara perbandingan di Korea selatan adalah 25.000: 1.000.000 penduduk. Untuk itu kita harus menyiapkan tenaga kerja bidang kosntruksi. Tantangan besar adalah bagaimana meningkatkan infrastruktur yang sangat besar.
“Persentasi Insinyur dengan jumlah penduduk tersebut akan menentukan tingkat kemajuan infrastruktur di wilayahnya. Kondisi inilah harus dihadapi bersama, terutama bagi kementerian teknis dan perguruan tinggi,”tutur Taufik.
Menurut Taufik, sarjana teknik tidak tertarik bekerja di bagian konstruksi di lapangan atau membangun infrasturktur di daerah. Para Insinyur lebih suka bekerja di bidang finansial atau di bidang teknik untuk pembangunan mall di perkotaan.
Tantangan pelaku jasa konstruksi di Indonesia salah satunya adalah ada peraturan yang tumpah tinggi, rendahnya daya saing kontraktor, rendahnya mutu konstruksi ini menjadi penting ini terkait dengan tingginya angka kecelakaan kerja di bidang konstruksi. Selain itu juga rendahnya tenaga ahli dan tenaga terampil serta terbatasnya informasi konstruksi.
Lebih lanjut, Taufik Widjoyono menyampaikan dari sekian tantangan tersebut yang terkait adalah tenaga kerja. Semua tantangan bisa diselesaikan jika tenaga kerja berkualitas. Untuk itu perlu memperbaiki kualitas antara lain dengan sertifikat. Semua dimulai dari perguruan tinggi yang menghasilkan tenaga kerja konsturksi di inonesia.
Dalam lima tahun ke depan PUPR harus membangun 2.300 km, tol 1.000 km. Selain PUPR, pemerintah melalui kementerian lain juga akan membangun 15 bandara baru, pelabuhan dan jalur kereta. Selain pembangunan infrastruktur, PUPR juga mengembangkan kawasan - kawasan seperti kawasan industri dan kawasan perbatasan yang juga membutuhkan tenaga insinyur.
“Target PUPR, setiap perguruan tinggi  yang menghasilkan sarjana teknik akan diberi tambahan dua bulan pelatihan / kursus untuk menjadi insinyur yang profesional yang bisa langsung praktek setelah lulus mendapat gelar Sarjana Teknik. “Untuk itu, Ditjen Bina  konstruksi bertugas menyiapkan tenaga kerja ahli, terampil bidang konstruksi untuk dapat membangun infrastuktur yang handal untuk negeri,”tutup Taufik.(ind)(Rw by Gie)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar