Rabu, 02 September 2015

Pasar Konstruksi Nasional Mulai Dilirik Asing

Diprediksikan beberapa dekade mendatang, Indonesia akan menjadi salah satu pasar konstruksi terbesar di dunia. Saat ini untuk wilayah Asia, Indonesia sudah masuk peringkat keempat di bawah China, Jepang, dan India.  Beberapa tantangan terberat yang harus dihadapi yakni mengintegrasikan Indonesia dalam menghadapi Liberalisasi Perdagangan Barang dan Jasa, MEA 2015 dan daya tahan pelaku Jasa konstruksi dalam menghadapi Pasar Kompetititf  baru yang dimungkinkan berdampak signifikan terhadap kondisi jasa konstruksi nasional.
“Di Asean  kita sudah tercatat sebagai pasar jasa konstruksi terbesar dengan nilai $ 267 Billion. Dan ini menjadikan Indonesia sangat dilirik oleh investor asing,” ungkap Dirjen Bina Konstruksi Kementerian PUPR, Yuzid Toyib hari ini (19/8) saat berbicara dengan pers di Jakarta.
Dijelaskan, dalam menghadapi tantangan ke depan pemerintah berupaya memperkuat para penyedia jasa konstruksi nasional agar dapat bersaing dengan pihak Asing. Bentuk dukungan ini berupa manajerial dan kapabilitas dengan mendorong Badan Usaha untuk menjadi spesialis serta kepemilikan sertifikasi bagi tenaga kerja konstruksi. Yang pasti, tambah Yuzid tantangan kita adalah harus bersatu. Seperti halnya Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional (LPJKN) yang kini sudah menyatu.
Menurut Yuzid Toyib, MEA sudah di depan mata. Tantangan pertama sudah bersinergi (LPJK). Hambatan lain adalah Sumber Daya Manusia dan Peralatan yang usianya sudah cukup tua perlu diprioritaskan. Dari 7,2 juta tenaga konstruksi yang kita miliki. Hanya 5% nya yang baru bersertifikat. Terkait dengan hal ini maka pemerintah akan bekerjasama dengan perushaan kontruksi besar untuk mencetak tenaga konstruksi (terampil, ahli dan utama) memiliki sertifikat keahlian.
Saat ini, ucap Dirjen Bina Konstruksi banyak BUJK Asing yang sudah masuk di Indonesia. Kehadilran mereka harus dibatasi. Jika tidak, dikuatirkan SDM kita sulit bersaing. Untuk mengantisipasi hal ini maka saat ini pemerintah sedang bekerjasama dengan ASEAN terkait dengan kesetaraan sertilfikasi. Dengan demikian tenaga kerja konstruksi kita nantinya diakui di Luar Negeri. “Guna melengkapi rantai pasok tenaga konstruksi. Wajib hukumnya bagi kontraktor besar memasukkan kontraktor kecil dalam setiap proyek yang digarapnya,” tegasnya.
LPJKN menilai, tenaga kerja konstruksi tidak kalah dengan pihak Asing. Bedanya, SDM kita jumlahnya masih sedikit (5%) dari total 7,2 juta tenaga konstruksi. Buktinya karya putra bangsa teknologinya “Sosrobahu” sudah digunakan di luar negeri seperti Philipina dan Srilangka juga akan menggunakan teknologi ini.
Kementerian PUPR bekerjasama dengan pihak swasta (Airports &Aviations, IICE 2015, RGG, MTI, Masyarakat Telematika Indonesia, KADIN, LPJKN)  kembali akan menggelar Event Konstruksi Indonesia 2015 (KI 2015) bersamaan dengan agenda Indonesia Infrastruktur Week 2015 (IIW”15) 4 – 6 November di JCC Jakarta. Ajang ini dinilai strategis bagi para pemengku kepentingan dalam mengapresiasi dunia jasa konstruksi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.(sony)(rw by gie)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar