Rabu, 16 November 2011

Pengusaha Konstruksi Keluhkan Tingginya Bunga Perbankan

Pengusaha konstruksi mengeluhkan tingginya bunga perbankan yang dibebankan kepada mereka sehingga menyebabkan lemahnya daya saing kontrakor nasional.

Ketua Asosiasi Kontraktor Indonesia (AKI) Sudarto mengatakan persolan utama yang membuat daya saing kontrakor lokal kalah dari negara lain bukan karena kemampuan tenaga konstruksi melainkan rendahnya dukungan perbankan yang menyumbang 70% dari pembiayaan.

Seperti diketahui pemerintah memiliki proyek Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) hingga 2025 untuk pembangunan infrastruktur dengan kebutuhan anggaran sebesar Rp 4.000 triliun.

Menurut dia bila perbankan tidak menurunkan tingkat bunga pinjaman kepada pelaku yang saat ini mencapai 12% bisa jadi proyek tersebut menjadi hidangan bagi kontraktor asing yang memiliki kemampuan pendanaan lebih baik.

Apalagi saat ini sudah banyak bank-bank asing yang masuk ke Indonesia, sudah pasti pengusaha luar akan mempergunakan pinjaman dari perbankan mereka dengan suku bunga yang masih rendah.

“Yang menjadi masalah utama, bunga bank kita 12% sementara negara lain di bawah itu bahkan ada yang 1% atau 2%, bagaimana mau bersaing? Akhirnya pembangunan infrastruktur kita bisa jatuh ke orang asing yang bunga pinjamannya lebih rendah,” ujar Darto dihubungi Bisnis, hari ini.

Menurut Sudarto bila pemerintah terus membiarkan hal ini terjadi, daya saing kontraktor lokal akan semakin lemah. Bila bunga mahal, kontraktor lokal hanya akan menjadi sub kontrak karena yang berinvestasi ialah perusahaan besar dan asing.

“Jangan sampai yang memanfaatkan kesempatan ini (proyek pembangunan) pengusaha asing karena pemerintah tidak aware, kita hanya kebagian tulang kerjanya saja.”

Oleh karena itulah, sambungnya, pemerintah harus meningkatkan dukungannya melalui pinjaman perbankan yang lebih rendah dan kompetitif sekitar 6% hingga 7% sehingga kontraktor lokal memiliki modal untuk menggarap proyek.

Hal senada disampaikan Direktur Utama PT Brantas Abipraya (persero) Bambang E Marsono yang meminta pemerintah menurunkan bunga pinjaman sekitar 7%. Menurut dia, tingginya bunga bank ini juga membuat tenaga konstruksi lokal tidak mampu bermain di negara asing.(bio/ean) (gie)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar