Senin, 23 Mei 2011

BLOK BETON UNTUK MENGATASI GERUSAN DAN DEGRADASI


Perubahan pola hujan yang tidak menentu akibat perubahan iklim global dapat menyebabkan kerusakan bangunan air pada sungai. Bangunan air yang dirancang sesuai volume debit air sungai yang sudah direncakanan menjadi berubah. Demikian dikatakan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Muhammad Hasan dalam temu wartawan di Jakarta (21/4).
“Yang disebut dengan bangunan air di sungai yakni bendungan, jembatan, SABO dam atau bangunan lain yang menentang sungai. Oleh karenanya, hal tersebut adalah tantangan bagi Balitbang untuk membuat bangunan air yang tidak dapat rentan air,” ujar Hasan.
Kerusakan yang biasa terjadi di sekitar bangunan air antara lain gerusan lokal. Yaitu gerusan material dasar sungai di hilir/sekitar bangunan air akibat peningkatan intensitas turbulensi aliran. Hal ain yaitu akibat pengangkutan material dasar sungai oleh aliran tanpa muatan sedimen.
Kerusakan lainnya ialah degradasi dasar sungai. Yaitu penurunan dasar sungai di suatu ruas tertentu. Diakibatkan pasokan angkutan muatan sedimen yang datang dari udik jauh lebih kecil daripada kemampuan aliran sungai di ruas tersebut untuk mengangkut sedimen. Atau, akibat pengambilan material dasar sungai dengan volume yang lebih besar daripada pasokan sedimen yang masuk.
“Degradasi dasar sungai bisa juga terjadi karena ulah manusia yang mengambil material sungai secara berlebihan,” ujar Hasan.
Untuk mencegah kerusakan lebih banyak bangunan air, Puslitbang Sumber Daya Air PU memakai teknologi blok beton terkunci. Teknologi tersebut untuk mengendalikan gerusan lokal dan degradasi dasar sungai. Gerusan lokal terjadi akibat peningkatan intensitas turbulensi aliran, sedangkan degradasi dasar sungai terjadi akibat penurunan dasar sungai di suatu ruas tertentu.
Teknologi blok beton terkunci terdiri dari beberapa jenis. Pertama, teknologi blok kaki enam yang telah diterapkan di beberapa tempat, seperti yang diterapkan pada pemecahan masalah gerusan lokal, degradasi dan perubahan morfologi sungai Cipamingkis di Cibarusah, Sungai Ciliwung di Kebun Raya Bogor, Sungai Brantas di hilir Bendung Karet Jatimlerek.
Kedua, kubus kaki enam, untuk penanggulangan darurat dan permanen gerusan lokal di hilir Bendung Karet Jatimlerek dan bangunan pengendali dasar sungai Ciujung di hilir Bendung Gerak Pamarayan. Ketiga, Balok kaki delapan untuk perkuatan ujung krib pelindung gerusan tebing sungai Cikaengan, bottom panels pelindung gerusan tembok pangkal jembatan Sempaga dan sungai Cibuni.
Kepala Pusat Air Balitbang, Ari Setiadi mengatakan agar material stabil di dasar sungai maka perlu memilih diameter butir dan rapat massa jenis yang besar. Namun upaya ini menghadapi kendala, yaitu kecenderungan morfologi sungai yang selalu berubah-ubah, dan data lapangan yang terbatas.
Ia menambahkan, berbagai tantangan dalam bangunan pengendali gerusan lokal dan degradasi dasar sungai adalah, dapat ibagi menjadi beberapa komponen yang modular, dapat dicetak secara fabrikasi atau ‘insitu’, berat komponen harus ‘relatif rngan’ tetapi dapat saling mengait dalam arah vertical, horizontal dan arah memanjang aliran, serta tantangan kaitan antar komponen cukup lentur agar bangunan dapat menyesuaikan diri dengan perubahan morfologi sungai. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar