Kamis, 19 Mei 2011

PENYELENGGARAN INFRASTRUKTUR PERLU PENGUASAAN PROJECT CYCLE


Penguasaan yang mendalam akan materi project cycle merupakan kebutuhan dalam penyelenggaran infrastruktur, khususnya bidang pekerjaan umum (PU). Dan, seperti diketahui, pembangunan Infrastruktur Pekerjaan Umum  (IPU) mempunyai peran vital dalam mewujudkan pemenuhan hak dasar rakyat seperti pangan, sandang, papan, keamanan, maupun pendidikan.
Demikian disampaikan Sekretaris Badan Pembinaan (BP) Konstruksi Kementerian PU  Tri Djoko Waluyo saat membuka acara Pelatihan Project Cycle Tingkat Intermediate di Yogyakarta, Senin (9/5). Pelatihan ini akan digelar hingga tanggal 12 Mei 2011 dan merupakan kelanjutan dari pelatihan dengan judul serupa untuk tingkat awal atau pemula. Diharapkan, pelatihan project cycle akan memberikan pendalaman materi bagi peserta yang akan menduduki jabatan struktural atau yang akan segera menduduki jabatan bidang PU, baik di pusat maupun di provinsi dan kabupaten/kota, termasuk mitra pemerintah, serta DPRD komisi terkait.
“Dan, untuk melaksanakan IPU yang berkualitas itu, kita butuh tenaga pelaksana yang mengerti benar bagaimana teknis melaksanakan pembangunan,” ujar Tri Djoko. Keberhasilan penyelenggaraan IPU itu sendiri tergantung pada ketersediaan sumber daya berupa material, biaya, SDM, teknologi, manajemen konstruksi, dan manajemen operasional serta pemeliharaan. Secara umum, apabila salah satu sumber daya di atas tidak tersedia, penyelenggaraan IPU tidak akan optimal.
Di sinilah sumber daya manusia (SDM) menjadi faktor yang paling dominan, karena seluruh faktor lainnya tergantung padanya. Kesungguhan dalam memperhatikan SDM ini semakin penting, mengingat masalah utama yang umumnya dihadapi dalam penyelenggaraan pembangunan infrastruktur di indonesa yakni belum memadainya kualitas SDM.
Salah satu upaya peningkatan kualitas SDM ini adalah dengan menyelenggarakan pelatihan project cycle, yaitu suatu pelatihan yang membahas siklus proyek pembangunan infrastruktur dengan pendekatan"Problem Based Learning", yaitu melatih para peserta agar dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Para peserta tidak hanya dibekali dengan kemampuan dan pemahaman analisis teknis, tetapi juga diberikan kemampuan dalam tataran soft skill termasuk kemampuan manajerial dan pendekatan ekonomi makro serta analisis kebijakan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar