Jumat, 03 Juni 2011

Fathul Huda Harapkan PT SG Lebih ‘Terbuka’



Calon Bupati Tuban terpilih H Fathul Huda meminta PT Semen Gresik (PT SG) Tbk untuk membuka peluang pengusaha di Tuban untuk bisa mengakses ekonomi di pabrik semen milik negara yang memiliki 3 pabrik di Tuban itu. Sebab, selama ini dalam menjalankan usahanya di wilayah Kabupaten Tuban PT SG menguasai semua level usaha yang sulit ditembus. Akibatnya, semua unit usaha pelengkap bisnis perusahaan berstatus BUMN  ini tak bisa dimasuki pihak luar.
Dalam kondisi demikian, rentan terjadi kecemburuan sosial di kalangan warga pebisnis sekitar.  Bahkan terkesan tak membuka pintu usaha kepada masyarakat. “Kalau pun ada hanya sebatas ‘ndompleng’. Itu pun jumlahnya tidak banyak dan masih mendapatkan potongan 6 persen,” tegas Huda.
Persoalan itu diungkapkan calon bupati yang bakal dilantik 13 Juni 2011 mendatang saat membuka Seminar Sehari Wirausahawan di gedung Sandya Graha milik PT SG di Desa Bogorejo, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, Senin (25/4).
“Semua level usaha yang dimiliki PT SG dikuasai sendiri oleh anak perusahaannya, sehingga tertutup untuk dimasuki warga luar. Ini kenyataan yang ada dari praktik usaha yang dilakukan oleh PT SG,” tegas KH Fathul Huda yang juga Ketua PCNU Tuban.
Huda, demikian ia akrab disapa, mengungkapkan, unit usaha yang dikuasai perusahaan ini melalui holdingnya adalah, unit pertambangan di kuasai oleh PT United Tractor SG (UTSG), masalah tenaga kerja dikuasai oleh PT Swabina Gatra, unit bisnis kemasan (kantong) semen dikuasakan kepada PT Industri Kemasan SG, angkutan darat dikuasakan kepada PT Varia Usaha yang juga bentukan dari PT SG.  Termasuk juga sarana transportasi laut juga dikuasai anak perusahaannya.
Sudah dalam kondisi tersebut,  PT SG membentuk koperasi keluarga karyawan yang juga diberi kesempatan berusaha sebagai mitra kerja di pabrik. Termasuk juga para pensiunan karyawan yang membentuk lembaga untuk diberi pekerjaan oleh perusahaan tersebut.  Dan yang terbaru, saat PT SG mendirikan pabrik baru (pabrik ke empat di Tuban), juga dilaksanakan sendiri oleh perusahaan ini. Apapun dalihnya BUMN ini sama halnya menutup peluang usaha  bagi sektor swasta.
“Jadi praktis semua level usaha tak bisa dimasuki pengusaha lain. Apa dipikir pengusaha dari Tuban tidak ada yang mampu melakukannya,” tegas Huda penuh semangat.
Menurut Huda, praktik penguasaan unit usaha yang menjadi penopang induk perusahaan ala PT SG tersebut sebenarnya sama halnya menutup pintu bagi pengusaha lain. Akibatnya bisa memantik terjadinya jurang usaha bagi pengusaha lokal yang memiliki kemampuan.
“Saya sendiri beberapa tahun lalu pernah mengajukan diri untuk mengerjakan proyek di PT SG, tapi sampai saat ini belum ada jawaban. Tapi karena sekarang saya jadi Bupati Tuban ya tidak akan mengajukan lagi untuk menggarap proyek kepada PT SG,” katanya disambut aplaus 300 pemuda yang mengikuti seminar bertema Menjadikan Pemuda Sebagai Wirausahawan yang Tangguh dan Sukses itu.
Kendati begitu, Huda mengakui, masuknya PT SG di Tuban pada awal 1990-an itu telah membawa perubahan signifikan bagi Bumi Ranggalawe. Sebelumnya Tuban yang akrab dengan kota mati, kini telah menjadi daerah yang benar-benar maju. Hal itu lebih karena masuknya industri di Tuban.
Ke depan Huda berharap, ada kesempatan dan pemerataan berusaha bagi masyarakat Tuban. Melalui pemerataan itulah jurang kemiskinan yang ada di masyarakat bisa dieliminir. Sehingga, praktik kapitalis yang merugikan warga masyarakat tidak terjadi lagi di Tuban.
“Untuk itu kita akan terbuka dan memberi kemudahan untuk berusaha kepada investor, agar setelah industri masuk bisa meningkatkan peluang berusaha kepada masyarakat. Pemerataan kemakmuran di tengah masyarakat menjadi perhatian serius kita ke depan,” tegasnya.
Dalam kesempatan sama, Kepala Departemen Pengelolaan Sosial dan Lingkngan Korporasi PT SG, Faf Adi Syamsul membantah jika PT SG disebut tertutup untuk berusaha  pihak luar. Diungkapkan, banyak yang sudah menjadi mitra usaha PT SG, termasuk program Corporate Social Responsibility (CSR) yang menjadi program untuk membangkitkan jiwa berusaha warga sekitar pabrik.
“Jadi tidak benar yang disampaikan Pak Huda itu, PT SG sangat terbuka kepada siapapun untuk menjadi mitra kerja. Jika memang memiliki kompetensi pasti kami jadikan mitra kerja di PT SG,” tegas Faf Adi Syamsul saat menjadi narasumber dalam seminar tersebut.
Dia mencontohkan, untuk unit usaha transportasi darat, tidak hanya dilakukan oleh PT Varia Usaha anak perusahaan PT SG. Namun, saat ini ada 27 pengusaha yang terlibat sebagai mitra sarana pengangkutan. Termasuk usaha-usaha lainnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar