Rabu, 15 Juni 2011

MENUJU KONSTRUKSI BERKELANJUTAN DI INDONESIA


Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak mewakili Menteri PU membuka seminar International dengan tema ““Sustainable Constructions in Indonesia”, Selasa (14/6) di Jakarta. Seminar ini merupakan bentuk komitmen Kementerian PU untuk mewujudkan konstruksi berkelanjutan di Indonesia.
Pembangunan insfrastruktur pekerjaan umum pada dasarnya sudah berada dalam koridor pembangunan yang berwawasan lingkunganSebagaimana ditegaskan dalam Undang-Undang(UU) sektor ke-PU-an, seperti UU No. 28/2002 tentang Bangunan gedung yang telah mengamanatkan pentingnya memperhatikan keseimbangan antara aspek bangunan dan lingkungannyaUU No. 74/2002 tentang Sumber Daya Air dan UU No. 38/2004 tentang Jalan yang mewajibkan agar dalam pengelolaan sumber daya air maupun jalan sungguh-sungguh memperhatikan kelestarian lingkungan. Serta UU No.26/2007 tentang Penataan Ruang yang menjadi payung hukum dalam menjaga keseimbangan pemanfaatan ruang baik skala kawasan maupun wilayah.
“Berbagai pihak sebenarnya telah berinisiatif mengimplementasikan konstruksi berkelanjutan sebagaimana penyelenggaraaan green building oleh beberapa kalangan masyarakat konstruksi dan pembangunan Kampus Hijau Kementerian PU” kata Hermanto.
Seminar tersebut dihadiri oleh Kepala Badan Pembinaan Konstruksi Kementerian PU Bambang Goeritno, Direktur Jenderal Bina Marga Djoko Murjanto, Ketua Dewan Kehormatan Perhimpunan Cendikiawan Lingkungan Indonesia Emil Salim, Duta Besar Swedia untuk Indonesia Ibu Ewa Ulrika Polano, dan para pejabat di lingkungan Kementerian PU.
Lebih lanjut Wamen PU menjelaskan, ke depan kebijakan pembangunan harus mampu mendorong peningkatan kualitas lingkungan, tidak terkecuali infrastruktur pekerjaan umum yang harus memenuhi karakteristik keseimbangan dan kesetaraan, berpandangan jangka panjang dan sistematik . 
Adapun kebijakan pembangunan tersebut diantaranya adalah menerapkan konsep konstruksi berkelanjutan, mempertahankan dan mendorong peningkatan persentase ruang terbuka hijau (RTH) terhadap kawasan bududaya lainnya, mempertahankan kawasan konservasi terutama dikawasan perkotaan, mewujudkanecocity serta meningkatkan pengawasan pengendalian lingkungan dalam aspek penyelenggaraan konstruksi.
“Untuk itu Kementerian PU telah mengidentifikasi seluruh aspek konstruksi berkelanjutan dan membuat kajian awal potensi penerapannya di Indonesia. Hasil kajian berupa Draft Agenda Konstruksi Berkelanjutan Indonesia (A21-KBI) diharapkan bukan hanya sebagai arahan dan pijakan, namun sebagai upaya membangun komitmen bersama bagi perwujudan konstruksi berkelanjutan Indonesia” imbuh Hermanto
Sementara itu, Duta Besar Swedia untuk Indonesia Ibu Ewa Ulrika Polano mengungkapkan, bahwa Swedia merupakan negara yang memperkenalkan konsep SymbioCity yaitu konsep perencanaan pembangunan kota berkelanjutan yang berarti menciptakan sinergi antara perencanaan dan teknologi, dimana dapat menghemat sumber daya alam, energi dan juga biaya.
Untuk itulah dalam kesempatan tersebut, dilakukan penandatanganan Master of Understanding (MoU) antara Indonesia dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum dengan Pemerintah Swedia. MoU tersebut dilaksanakan agar bermanfaat bagi Indonesia dan Swedia dalam pembangunan konstruksi berkelanjutan. Sedangkan tujuan dilaksanakan MoU tersebut, tambah Hermanto untuk mengetahui bagaimana praktek SymbioCty di Swedia dan pada akhirnya bisa di transfer ke Indonesia dengan menggunakan pendekatan-pendekatan yang sesuai.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar