Jumat, 03 Juni 2011

PENANGANAN JALUR PANTAI UTARA JAWA


Jalur Pantai Utara Jawa (Pantura)dinilai memiliki nilai ekonomis tinggi. Letaknya yang berhadapan langsung dengan Laut Jawa merupakan jalur perdagangan laut baik regional, nasional maupun internasional. Kawasan ini juga dilintasi jalan Nasional yang juga merupakan jalur perdagangan darat regional dan nasional. Peningkatan Angkutan Barang di pulau Jawa  mencapai lebih dari 80% dalam kurun waktu 5 tahun terakhir.

Demikian disampaikan Direktur Bina Pelaksana Wilayah II Winarno kepada wartawan, Kamis (1/5) di Jakarta. Lebih lanjut dikatakannya, Letakstrategis kawasan koridor Pantura Jawa dengan kondisi fisik kawasan  yang relatif datar menjadikan kawasan ini diminati untuk pengembangan berbagai kegiatan komersial.

“Dapat kita lihat, pesatnya pertumbuhan kawasan terbangun atau wilayah perkotaan, terdapatnya tiga wilayah kota metropolitan (Jakarta, Semarang, dan Surabaya). Serta banyaknya pusat-pusat kegiatan perdagangan, industri, bandar udara dan pelabuhan laut utama pada kawasan koridor Pantura Jawa,” ujar Winarno.

Berdasarkan hasil studi JARNS (Java Arterial Road Networks Study) Tahun 2001, jumlah penduduk pada Kawasan Koridor Pantura Jawa tercatat mencapai 48 % dari total penduduk Pulau Jawa. Sedangkan, Hasil study menunjukkan bahwa angkutan barang pada koridor Jawa – Sumatera didominasi oleh  Angkutan Jalan hingga 80% – 90%, sehingga Jalur Pantura jawa dilewati 3.000 hingga 4.000 kendaraan per hari.

Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Kawasan Koridor Pantura Jawa memberikan kontribusi sebesar 65 % dari total PDRB Pulau Jawa. Sedangkan Kontribusi PDRB sektor Industri di Kawasan KoridorPantura Jawa memberikan kontribusi sebesar 71 % dari total PDRB sektor Industri untuk Pulau Jawa san sektor pertanian memberikan kontribusi sebesar 40 % dari total PDRB sektor pertanian untuk Pulau Jawa.

Tahun Anggaran 2011 penanganan jalan dan jembatan di sepanjang jalan Lintas Pantura Jawa Barat sekitar286,50 km. Kondisi Jalan Lintas Pantura Jawa Barat hingga akhir Februari 2011, yakni kondisi baik sepanjang 186,86  km  (59.48 %), kondisi sedang sepanjang 77,08 km  (24.53 %), rusak ringan sepanjang 45,38 km  (14.45%) dan rusak berat sepanjang 8,74  km  ( 2.78%).

Beberapa paket pekerjaan fisik pelaksanaan jalan nasional di Provinsi Jawa tengah yakni  Losari – Pejagan- Brebes Rp. 45,4 miliar, Brebes – Tegal Bypass Rp. 72,5 miliar, Brebes – Tegal – Pemalang Rp. 61,4 miliar, Pemalang – Pekalongan – Batang – Plelen Rp. 38,6 miliar,-, Rawalo – Wangon – KR.Pucung – BtsJawa Barat Jeruklegi – Wangon Rp. 42 miliar, Tegal – Slawi – Prupuk – Ajibarang - Wangon Rp. 8,8 miliar,Jladri – Tambakmulyo - Wawar Rp. 14,2 miliar, Adipala – Ayah – Jladri, Wawar – KR. Nongko Rp. 23,6miliar.

Sedangkan, pelaksanaan Jalan Nasional di Jawa Timur yakni Gempo – Brangil – Bts Kota Pasuruan, preservasi jembatan di Bts kota Pasuruan – Bts Kab. Probolinggo, preservasi jembatan di Bts Kab. Pasuruan – Pilang (Bts Kota Probolinggo), peningkatan kapasitas melalui pelebaran jalan di Jalan Gempol – Bts Kota Bangil, Eskalasi di Pasuruan – Probolinggo – Mlandingan dan Mlandingan – Situbondo – Banyuwangi, peningkatan struktur jalan Pasuruan – Pilang. Serta pembangunan Jembatan Book Wedi, CS.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar